Thursday, March 12, 2009

pengeras suara mesjid yg mengganggu

sebenarnya, apa sih fungsi dari speaker mesjid? tentunya untuk memberitahu pengumuman dari mesjid ya? bisa pengumuman datangnya waktu ibadah, atau pengumuman lain yang sifatnya untuk kepentingan masyarakat umum

di lingkungan yang penduduknya mayoritas muslim, pengeras suara ini sangat umum terdengar minimal 5 kali sehari, tapi cobalah pergi ke daerah dimana islam menjadi minoritas. jangankan bisa mendengar pengeras suara mesjid, melihat mesjid pun sangat jarang.

kenapa saya membahas pengeras suara mesjid? karena akhir akhir ini saya menyadari bahwa pengeras suara itu sudah terlalu sering disalah gunakan sehingga kenyamanan hidup saya banyak dan banyak (sudah bukan sedikit banyak lagi) terganggu

apabila pengeras suara itu digunakan hanya sesuai dengan peruntukannya, fine. tapi kalau digunakan untuk egonya, hmmm... masalah mulai tercium.

yang paling mengganggu saya adalah digunakannya pengeras suara untuk acara pengajian ibu ibu, tahlilan, ataupun cuma untuk mengaji pribadi. saya sama sekali tidak ada unsur antipati, tapi bukankah semua acara yg saya sebut tadi cenderung acara pribadi atau kelompok kecil? apakah ada kepentingan dari masyarakat sekitar dalam radius 500 m2 sehingga mereka harus ikut mendengar acara atau kegiatan pribadi itu?

hampir setiap sore sampai malam sekitar jam 21:30, ada acara pengajian ibu-ibu atau tahlilan dsb menggunakan speaker masjid di dekat rumah saya. hal itu jelas mengganggu keluarga saya terutama mengganggu proses menuju tidurnya anak saya. tahukah mereka kalau anak-anak terutama balita sulit tidur kalau banyak suara ribut? dan yang paling mengganggu adalah adanya orang yang mengaji (pribadi) sekitar satu jam sebelum azan subuh. tidak hanya mengaji, kadang menyanyikan shalawat dengan suara fals. akibatnya, anak saya yang baru berumur satu setengah tahun pasti terbangun dan menangis. anak bayi aja tau kalau hal itu mengganggu, ko' mereka ngga sadar ya?

dulu saya pernah tinggal di daerah yang memiliki 5 mesjid dalam radius 200 meter. terbayangkah betapa berisiknya ketika waktu sembahyang tiba? tapi mereka cukup tau diri dengan hanya menggunakan pengeras suara itu secukupnya. tapi kenapa di tempat yang sekarang saya tinggali ini, hanya ada 1 mesjid, tapi penggunaan pengeras suaranya termasuk brutal. dan perlu diketahui kalau volume suara dari speaker mesjid di dekat rumah saya itu amat sangat keras. padahal jaraknya dari rumah saya sudah cukup jauh, sekitar 200 meter dan banyak rumah diantaranya. tapi hampir bisa dipastikan kalau speaker itu mulai menyala setiap jam setengah empat pagi dan terus ada orang 'bernyanyi' selama 1 jam lebih sampai azan subuh, orang yang tidur lelap sekalipun akan terganggu. bisa dibayangkan? begitulah

saya sama sekali tidak anti atau alergi terhadap orang yg mengaji. tapi bukankah mengaji adalah kegiatan pribadi yang berusaha menghubungkan orang yang membaca dengan penciptanya? perlukah orang ratusan orang di sekitarnya ikut mendengar? yang penting hubungan dia dengan sang pencipta atau ratusan orang di wilayah itu tau kalau dia bisa mengaji?

50 comments:

  1. Agama sebelah emmang gitu, kadang diberitahu malah mencak2, dikiranya Tuhan itu tuli kale

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. Saya mengerti keberatan anda. Saya seorang muslim taat, tapi sangat tidak suka dengan fenomena ini. Saya juga berjuang agar masalah ini tidak berlanjut. Di dalam Islam sendiri diajarkan untuk beribadah dengan suara rendah sehingga tidak mengganggu orang lain. Selain itu beribadah dengan suara keras justru berpotensi untuk menimbulkan rasa sombong ingin didengar. Kiranya Allah memberkati kita semua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih,saya sangat hargai smoga msh ada banyak muslim yg pengertian seperti anda.salam damai

      Delete
  3. saya juga maengalami hal serupa yang paling menyedihkan gereja dekat rumah saya berjarak 500 meter dilarang oleh ulama setempat membunyikan lonceng diperbolehkan hanya sekali setahun tepatnya di pondok aren tangerang dengan alasan mereka tidak bertanggungjawab bila ada masyarakat yang bertindak.
    Susahnya sejak saya pindah di perumahan baru ada mushola berjarak 3 rumah dari rumah tapi begitu mereka tahu saya kristen yang awalnya tidak ada corong (loudspeaker) sekarang dikasih 2 yang satu di arahkan ke rumah saya (nmenghadap ke bawah) lucu memang mereka berpikir saya akan jadi mualaf krn mendengarkan adsan padahal di tempat asal saya rumah saya berdampingan dengan pesantren dan tidak pernah membuat saya tertarik masuk islam.
    Yang menarik di Jawa timur saya anggap islam agama yang ramah tapi begitu di Banten saya berpikir islam agama yang keras penuh kebencian dan rasa curiga ? ada apa yah???
    Saya menjadi tidak simpati sama sekali sampai pak haji samping rumah saya menegur orang kampung yang adzan terlalu keras karena beliau terganggu juga oleh suara yang memekakkan telinga.
    Saya sich berpikir kalau islam mirip yahudi yach bedanya yahudi menciptakan rasa takut dengan membunyikan sekeras kerasnya sangkakala ke musuh musuhnya?
    Tapi aku sendiri tidak menganggap islam musuh mereka kok ketakutan yach ada tetangga kristen ada apa yach???
    bisa cek di artikel di bawah ini semoga yang bernasib seperti saya dikuatkan.
    Menteri Urusan Agama, Wakah dan Dakwah Arab Saudi, Saleh Al-Asheikh menginstruksikan para imam masjid untuk tidak terlalu keras memasang volume pengeras suara saat memimpin salat.

    Instruksi ini disampaikan Al-Asheikh di sela-sela pertemuan jajaran pimpinan kementerian urusan agama untuk wilayah Riyadh. Menurut Al-Sheikh suara pengeras suara yang terlalu bising kadang membuat suara imam yang sedang melantunkan ayat-ayat suci al-Quran tidak terdengar jelas. "Ini membuat para jamaah di dalam dan di luar masjid tidak bisa mendengar bacaan al-Quran dengan jelas," kata Al-Asheikh.

    Di Saudi, banyak masjid yang jaraknya hanya terpisah beberapa blok saja, sehingga penggunaan pengeras suara saat ceramah atau salat menimbulkan suara bising sehingga para jamaah terkadang justeru tidak nyaman menyimak ceramah dan bacaan salat.

    "Pengeras suara boleh keras saat adzan, tapi saat salat sebaiknya imam mengecilkan volumenya. Bahkan ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa pengeras suara sebaiknya dimatikan saja saat imam memimpin salat," ujar Al-Sheikh.

    Ia juga mengingatkan hadist Rasulullah Muhammad Saw yang mengatakan bahwa ketika salat, kita sedang melakukan komunikasi rahasia dengan Allah dan sebaiknya suara dipelankan saat membaca bacaan salat.

    Menurut Al-Asheikh, para imam masjid harus lebih memperhatikan kedispilinan dan ketertiban di dalam masjid. Meski saat ini kondisinya sudah lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. "Karena para imam dan khatib sudah lebih sadar akan kewajiban dan peran mereka," ujarnya.

    Untuk itu, kementerian yang dipimpinnya selalu meningkatkan performa para imam dan khatib di masjid-masjid Saudi dengan memberikan berbagai program pelatihan. Kementeriannya, kata Al-Sheikh, juga akan memperbaiki perjanjian untuk menjadi imam dan khatib sehingga mereka tahu apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan.

    "Perjanjian itu menjelaskan bagaimana sikap saat memimpin salat dan saat mereka berada di masjid. Sehingga mereka tidak seenaknya melakukan aktivitas seenaknya di dalam masjid. Perjanjian itu berlaku di semua cabang kementerian dan untuk seluruh imam dan da'i. Mereka harus menandatangani perjanjian itu setelah penunjukkan," jelas Al-Sheikh. (ln/arabnews)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini yang sulit di Indonesia untuk dilakukan, saya mendapat permasalahan yang sama, dimana rumah baru dibangun, tetangga belakang persis rumah menjual tanahnya dan dijadikan mushala. dengan 3 toa yang lumayan "pendek" sehingga telinga terasa berdengung saat 5 waktu adzan, dimana bukan suara merdu yang terdengar melainkan suara anak-anak kecil yang berteriak-teriak dengan bahasa arab tentunya dan nyanyian yang sangat tidak indah dilantunkan.
      kalau saya tahu belakang akan dijual dan dibangun mushala, sudah jelas, saya tidak akan pernah membangun rumah persis dibelakangnya. RT tidak bisa menggugah si pemilik mushala, dengan mengecilkan volume atau meninggikan toa. Bukan anti, tetapi belum pernah saya mendengar adzan dengan suara tidak bagus untuk didengar dan sangat memekakkan telinga. Apakah ini sebutan akan "toleransi", saat dikritik malah memusuhi si tetangga yang komplain...betapa bijaksananya. **bagaimana mendapatkan respect kalau begini..Tuhan maha sempurna, tanpa berteriak-teriak pun akan tahu apa yang dilakukan umatnya.

      Jakarta Timur, tanah merdeka 2 Rt 3 Rw 6..harusnya lokasi tenang untuk beristirahat menjadi sangat "berbeda" saat tetangga menjual lahan sempitnya di tengah tengah rumah warga yang padat penduduk.

      Delete
  4. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa sbg muslim saya juga tdk setuju bahwa masjid pake pengeras suara. Tapi saya mohon sdr2 di blog ini yg tentunya berpendidikan untuk bisa melihat fenomena ini scr luas dgn tdk menyalahkan umat Islam scr keseluruhan. Kita harus tahu bahwa mayoritas penduduk Indonesia ini kurang berpendidikan. Saya pikir masjid2 yg menggunakan pengeras suara itu biasanya masjid2 di kampung yg jemaatnya anda tau sendiri bagaimana latar belakangya. Anda tdk akan menemukan hal yg sama di masjid2 kampus atau masjid agung. Jadi percayalah bahwa agama Islam sendiri sangat mengajarkan toleransi. Berhubung mayoritas penduduk Indonesia yg kurang berpendidikan, maka pesan toleransi itu menjadi kabur. Saya jadi teringat cerita om saya yg stay di Ambon. Dia bilang kegiatan beribadah umat Islam di sana juga sering diganggu. Teman saya yg di Manado dan Kalimantan juga mengatakan bahwa umat Kristiani di sana juga sering menekan umat Islam dengan cara vulgar. Tapi ini tidak menjadikan bahwa agama Kristen menjadi terkotori kesuciannya bukan? Karena yg melakukan itu bukanlah umat yg mengerti ajaran kasih dalam Kristen. Semoga bisa menjadi masukan bagi anda semua.

    ReplyDelete
  5. @ marsudi : very nice article ...
    @ subotai : saya yakin marsudi tidak bermaksud offense dan menyalahkan islam secara keseluruhan, hanya share pengalaman saja. sebagaimana kata marsudi 'Yang menarik di Jawa timur saya anggap islam agama yang ramah'
    mari kita buat blog ini tempat berkumpul yang berfikiran terbuka

    ReplyDelete
  6. Ya baguslah jika anda punya niatan spt itu. Sedih juga ngeliat blog2 yg lain akhirnya malah jd arena debat kusir dan ajang saling menghina yg kampungan bgt.

    ReplyDelete
  7. sebenernya hanya di perlukan kesadaran dan pengertian saja disetiap orang maka semua akan kembali menjadi normal.

    untuk yg adzan dan yg bertanggung jawab soal mesjid di daerahnya, kalo menurut gw seh y doi harus tau dunk etika menggunakan speaker masjid untuk apa dan bagaimana di gunakan.

    g perlu pusing soal suara adzan,suara adzan memang sudah ada kok dari zaman kita sebelum dilahirkan bahkan dia sudah ada sejak beratus-ratus abad yg lalu tp toh dia tetep aja ada tempat di hati para penggemarnya walaupun sudah sangat sering di kumandangkan.
    yg jadi masalah bukan itu tapi adakah toleransi diantara kita.??

    kl satu atau dua orang mengaku beragama islam dan berbuat kejahatan apakah berarti seluruh umat islam di dunia ini akan salah,menurut saya tidak itu lah yg disebut oknum dan oknum itulah yg patut dan perlu disalahkan.

    banyak para extremis yg membawa-bawa nama agama untuk menghalalkan segala tindakannya yg abnormal itu tp buat saya mereka itu lebih rendah dari pada binatang.knapa?

    ya
    karna agama itu mengajarkan cinta kasih dan kebenaran.ya ga sih.
    so
    sudahkah kita memiliki sikap toleransi.??

    ReplyDelete
  8. gimana bila pertanyaannya kita modifikasi,

    sudahkah yang membolehkan adzan keras2 itu memiliki sikap toleransi??

    ReplyDelete
  9. cikal bakal bom berawal dari sini,manusia yg buta hati nuraninya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sy sangat setuju dengan pendapat seperti itu! alloh itu maha mendengar

      Delete
  10. INILAH PEWARIS SURGA ITU, TIDAK MEMBUAT PILAR AGAMA KOKOH SEBALIKNYA MEROBOHKAN PILAR ITU SENDIRI, ISLAM MENJADI TERSUDUTKAN

    ReplyDelete
  11. saya juga merasakan hal yang sama terutama saat bulan puasa, pemuda keliling kampung membawa tetabuhan dan genderang(bedug), padahal dari masjid juga sudah teriak2 membangunkan; terus kalo berhenti di depan rumah mereka lalu membunyikan keras-keras seolah kami ini juga harus ikutan bangun..anak saya yang berumur 16 bulan sampai menangis dan ketakutan lalu minta di gendong terus sampai pagi, tetangga2 sebelah saya juga muslim dan mereka mengatakan sebenarnya terganggu tapi kalo ditegur nanti akan dibilang macam2 jadi mereka lebih baik diam.Akhirnya kalo dari jauh sudah terdengar suaranya,sebelum anak saya bangun saya akan mematikan lampu jalan dan juga teras, kalo gitu biasanya mereka hanya akan lewat saja.Bukannya tidak toleran, tapi saya terutama anak saya sangat terganggu oleh bising suara bedug

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama nich seperti,saya ..sangat terganggu sma yg bgitu2..apa lagi bulan pooasa,

      Delete
  12. Sebenarnya penggunaan awal 'TOA'di masjid diperuntukkan hanya utk adzan.dan sepengetahuan saya adzan memang harus dilantunkan secara lantang utk memberitahukan umat islam bahwa waktu sholat sdh tiba. Utk keperluan itulah,memang diperlukan toleransi umat lain selain muslim utk memakluminya. Penggunaan 'TOA' selain adzan sampai saat ini saya belum menemukan dalilnya. Saya selaku muslim pun tidak mendukung ini, karena memang sangat mengganggu dan menimbulkan polusi suara secara berlebihan.Secara sadar ataupun tidak sdh mendzolimin orang2 disekitarnya. Ini sdh menyalahi konsep islam yg rahmatan lil allamin,bukan malah menciptakan "kemurkaan" thd alam sekitar.Saya yakin tindakan ini dilakukan oleh dewan masjid setempat karena keterbatasan pengetahuan mereka. Utk itu saya menghimbau adar Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengeluarkan aturan yg tegas utk hal ini dan mensosialisasikannya,agar permasalahan ini tidak menjadi polemik berkepanjangan.

    ReplyDelete
  13. Sy jg mgalami hal yg sma,pdhal sy muslim,sy sgat tdk stju pgunaan loadspeaker keras" tnp mgenal sikon,tp sy brsyukur sy dlm bbrp bulan kdpan sy uda pndah dr tmpt ruwet ni,kpd sdra" non muslim, islam tdk spt tu umat islam jg tdk spt tu trmsk sy

    ReplyDelete
  14. Jangankan kita2 yg orang biasa... Wapres Budiono saja gak dianggap...... biarin aja deh mereka2 yg beribadah tapi hanya dapat pepesan kosong....ibadah kok ganggu orang.....

    ReplyDelete
  15. Dalam filsafat Pancasila semua religi terlindung sesuai dengan syarat2 yang berlaku. Keberadaan reformatif yang tidak jelas membuat kelompok-kelompok minoritas mengekspresikan kebenarannya atas kehendak sendiri yang berakibat tidak berguna bagi masyarakat secara luas. Ketidakpahaman terhadap agama, toleransi dan “politik-khusus” masyarakat yang diam dalam apati karena kurang istirahat-tidur secara berkualitas, tertimbun dalam sindrom kecapaian kronis. Demokrasi-publik harus mulai berdiri atas kesatuan rakyat dengan tujuan memerdekakan Nusantara dari segala ketidakadilan dan praktek2 yang tidak sesuai dengan konstitusional-nya. Kelebihan suara yang timbul dari knalpot bising dan loadspeaker adalah hasil dari persekutuan kebisingan, oknum yang mencari perhatian. Bukan kelakuan dan keinginan mayoritas yang berjuang setiap hari. Kesopanan dalam masing-masing suku dan agama perlu bangkit kembali berdasarkan akar budaya, langit konstitusi dan pendidikan negeri yang menjadikan seseorang dapat diajari untuk berfikir dan berdiri atas pola akhlak dan memahami hak individual dalam masyarakat.

    ReplyDelete
  16. Biasanya orang di kampung2 yang suka menyalahgunakan kepentingan tempat ibadah sehingga kalo speakers semakin keras anggapannya adalah semakin bener...kalo sudah punya prinsip seperti ini...repot... salah aja merasa bener.. apalagi bener...??? mestinya pemerintah pusat, ke pemda sosialisasi peraturan dengan tegas menghadapi persoalan seperti ini.. sepele tapi justru yang sepele ini perlu diperhatikan.., Kalau pemerintah tidak tegas masyarakat akan biasa main hakim sendiri.

    ReplyDelete
  17. ngomongin masalah ini rasanya seperti benang kusut. Karena mereka yg ribut menganggap dirinya sedang berdoa (melakukan hal yg baik) sehingga orang yg protes di pandang sebagai temannya si Dajjal... whadeeuuhhh

    ReplyDelete
  18. masalah kebisingan suara memang harus di antisipasi, jangan sampai niat baik malahan mengganggu orang lain... di butuhkan etika yang baik dalam memakai elektronik toa...

    kami dari TOKO TOA berharap masalah kebisingan ini bisa ada solusi.. terima kasih..

    ReplyDelete
  19. setuju deh dengan Pak Surya, saya selaku pedagang TOA juga terganggu jika ada hal seperti itu.

    ReplyDelete
  20. WTF with you
    Are you fucking kidding me?
    Zaman udah modern tuk surya, gak mungkin juga muadzin manjat kubah mesjid segala.
    Dasar datuk surya kurang ajar, anda telah melanggar uu loh.

    ReplyDelete
  21. Non muslim mau nyoba negor muslim-muslim supaya TOA nya nggak berisik??? Siap-siap ilang tuh nyawa. Banyak banget muslim yang bilang + sepakat kalau perbuatan amrozi itu jihad dan bilang kalau bilang bomber bunuh diri dan kawan-kawannya kayak amrozi dan imam samudera itu bakal masuk surga, biarpun yang tiwas nggak bikin apa-apa sebetulnya sama si bomber/amrozi. Gimana lagi sama orang yang berani keberatan sama brisiknya azant. Ngga ada jaminan kan di Indonesia kalau di mesjid berisik pasti bebas muslim tipe bomber/tipe amrozi. Laporan bisa aja ditanggepin langsung sebagai serangan terhadap islam, dan udah jelas kalau darah penyerang agama islam itu halal untuk ditumpahkan. Please dech, hare gene udah banyak non-muslim udah makin tau kok tabiat muslim Indonesia yang tambah hari tambah lebih taliban daripada talibannya afghanistan/arab saudi.

    ReplyDelete
  22. saya sekeluarga juga tidak bisa tidur gara gara TOA. kadang saya pulang malam mau istirahat pun kesusahan.
    kami juga punya bayi 1tahun yang sangat membuuthkan istirahat, bayi kami juga sangat terganggu di waktu istirahatnya. sering menangis terbangun dari tidurnya karena suara TOA yang sangat berisik. yang kami kawatiran perkembangan fisiknya terganggu karena kurang tidur.
    didaerah kami merupakan perumahan yang cukup padat. tidak ada masjid tetapi ada banyak mushola kecil kecil. jarak TOApun cuma 50meter sudah ada TOA lagi. TOAnya pun tidak cukup satu selalu ada 4 penjuru mata angin. seringkali juga mushola digunakan digunakan tidak hanya untuk ibadah tetapi juga sebagai sarana kampung. dan rapat kampungpun selalu disertai dengan doa pengajian. sering juga pengajian samapi jam 10-11 malam. terkadang pengajian juga terdengar suara anak kecil yang mengaji tidak serius sambil teriak teriak, kadang ada yang bercanda.
    kami sekeluarga bukan orang mampu, terkadang ingin pindah tapi masih menunggu rejeki yang diatas.
    yang kami lakukan hanyalah bekerja dan sambil berdoa" ya Tuhan mohon berikanlah rumah kontrakan yang jauh dari masjid atau mushola yang sangat mengganggu ini, syukur syukur kami bisa beli rumah diperumahan yang tertib dan teratur".

    ReplyDelete
  23. ignorance intolerance bigotry egoistic

    ReplyDelete
  24. Kalau jaman dulu blm ada TOA sembyang pke ap mas biar suaranya keras???..
    ikutin jman dlu aj deh smbhyang biar ga brisik n berkoar2..bising nya kenbngitan mas. Ga ad toleransi bngt mas.kasihan kan am umat hindu/budha/kristen.

    ReplyDelete
  25. Saya kebetulan tinggal di area pemukiman yg terdapat 1 masjid dan 2 musholla. Jarak antar masjid dan ke 2 musholla tsb tidak terlalu jauh. Anehnya, yg di masjid malah tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan sampai mengganggu. Justru 2 musholla ini yg setiap hari menggunakan pengeras suaranya dengan volume yg keras.

    Seperti komentar-komentar di atas, Saya pribadi tidak bermasalah dengan penggunaan pengeras suara di masjid / musholla asal sesuai dengan waktu dan perutukannya. yaitu untuk mengumandangkan adzan 5 kali sehari, serta mengumumkan sesuatu perihal yg dinilai perlu diketahui masyarakat sekitar (seperti jika ada yg wafat, undangan kerja bakti, dll).

    Akan tetapi yg terjadi di tempat saya tinggal tidaklah demikian. Pengeras suara dipakai secara abusive dengan menyetel volume keras2, dan suara yg diblast kemana2 berisi suara anak-anak yg cekikikan dan bercanda dengan teman2nya, Sambil berebutan menggunakan microphone, yg tidak jarang dilakukan dengan berteriak. Biasanya dilakukan mulai 1 jam sebelum adzan maghrib sampai waktunya adzan maghrib baru berhenti setiap harinya. Kadang saya bingung, mengapa tidak ada orang dewasa yg menegur / memberitahu / menasehati anak-anak tersebut, bahwa jika ingin menggunakan microphone, jangan teriak2 / bercanda cekikikan.

    Ada lagi penggunaan oleh ibu2 pengajian di pagi-siang hari yg (mohon maaf) suaranya jauh dari merdu, tetapi tetap dipaksakan, sehingga malah pada akhirnya, volumenya lah yg semakin keras.

    Perlukah penggunaan pengeras suara sampai demikian berlebihan? Bahkan kadang sampai jam 11 malam pun masih dilakukan, padahal bukan bulan puasa atau sedang hari raya umat Islam. Kan kasihan orang lain yg sedang sakit, orang tua yg ingin beristirahat, bayi dan anak2 yg ingin tidur. Terlepas dari agama apapun yg dianut mereka (orang sakit, orang tua, bayi, dan anak-anak tsb), mereka terganggu oleh volume suara yg keras (apapun sumbernya). Mereka hanya manusia biasa yg perlu istirahat.

    Lantas bagaimana jika kondisinya terbalik? Mereka yg sedang sakit atau orang tuanya yg ingin beristirahat, tetapi tidak bisa karena ada oknum yg menyalahgunakan pengeras suara dengan volume keras. Tentunya tidak menyenangkan dan terasa sangat mengganggu bukan?

    Jadi sebenarnya boleh saja menggunakan pengeras suara, asal sesuai waktu dan peruntukannya, serta dengan volume yg wajar. Tidak ada keberatan / rasa tidak suka atau apapun yg sifatnya negatif terhadap adzan, doa, sholawat, apalagi terhadap agama Islam itu sendiri. Ini murni masalah humanisme. Masalah toleransi antar manusia yg satu dengan manusia yg lainnya secara universal tanpa memandang SARA. Masalah tanggung jawab penggunaan alat elektronik yg jika tidak digunakan secara bijak, bisa mengganggu banyak orang.

    Lalu masih adakah orang-orang yg sadar dan bijaksana serta bertanggungjawab ketika menggunakan pengeras suara? Jawabannya ada. Buktinya masjid yg saya sebutkan di atas malah tidak menggunakan pengeras suaranya secara berlebihan. Hanya untuk adzan sholat 5 waktu sehari, dan hal-hal pengumuman penting saja (itupun jarang) dan nada serta volume suaranya tidak keras (baca: berteriak).

    Pada akhirnya saya rasa yg perlu digarisbawahi dan dipahami oleh kita semua adalah, bahwa penggunaan pengeras suara secara berlebihan (baik frekuensi, waktu, dan volumenya) tidak dilakukan oleh semua masjid / musholla. Artinya hanya oknum yg belum / tidak tahu/sadar bahwa apa yg dilakukan mengganggu orang lain.

    Kemudian juga munculnya "kritik" terhadap penggunaan pengeras suara ini muncul bukan karena masalah SARA, Jadi tidak bijak apabila ada yg berpikir bahwa orang2 yg mengkritik = orang-orang yg membenci agama Islam / muslim secara keseluruhan. Orang tua, anak2, serta bayi yg terganggu oleh volume keras dari pengeras suara masjid / musholla juga ada yg beragama Islam.

    Semoga kita semua semakin bijak menghadapi fenomena seperti ini, dan semoga ke depannya tidak terjadi lagi dimanapun.
    Maaf kalau ada kata2 yg kurang pas / menyinggung. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf.

    Salam damai Indonesiaku :)

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  27. Islam emang ajaran arab kekerasan teroris sehingga menggunakan senjata toa untuk kekerasan suara mengganggu dan menyerang orang dengan kesombongan suara keras agar ajaran terorisnya didengar orang indonesia yang bermartabat sehingga orang indonesia menjadi jombi teroris saling bunuh seperti di pandeglang karna ajaran biadap bangsa arab.

    ReplyDelete
  28. Di daerah saya (kemayoran) malah saat adzan suaranya tidak mengganggu, tapi justru setiap hari minggu mulai jam 11 saya tidak tau ada acara apa, namun suaranya sangat menganggu. Trims

    ReplyDelete
  29. kebisingan toa itu sdikitnya 5 kali sehari, apalagi mesjid yg saling brdekatan ampe brisiknya gk karuan.tpi sbgai umat kristen tetap punya toleransi , umat kristen ibadah sminggu sekali dan ibadahnya jga brisik karna gk pake lousdspeaker yg keras. Umat kristen jga butuh toleransi dri non kristen

    ReplyDelete
  30. Intinya memang keegoisan dari oknum yg mengaku muslim dalam beribadah memakai toa tanpa peduli lingkungan sekitar dan orang lain.. bedebah

    ReplyDelete
  31. Intinya memang keegoisan dari oknum yg mengaku muslim dalam beribadah memakai toa tanpa peduli lingkungan sekitar dan orang lain.. bedebah

    ReplyDelete
  32. Apakah ada di ajaran Al Quran diwajibkan memakai TOA (pengeras suara) saat adzan atau pengajian??? Gimana saat jaman nabi muhammad saw saat belum ditemukannya alat elektronik ini??? Sebaiknya cara nabi ini saja yg diikuti...

    ReplyDelete
  33. gw domisili di Cilegon Banten,tinggal di Perumahan yg konon paling elite di Cilegon,di tiap Cluster perumahan sudah pasti ada mushola,tiap cluster rata2 100kk,tapi ga lama muncul mushola lagi di dalam cluster tempat gw tinggal,and posisi paling berjarak 30 meter and TOA loud speaker nya di pasang setinggi area lantai 2 rumah gw,da jelas bagaimana hasil suara nya.gw se keluarga dari dulu udah biasa and toleransi,tapi ga tau kalau tetangga lain nya,yg kebetulan di blok gw rata2 non muslim.yg jadi pertanyaan gw,kenapa ya harus membangun mushola berdekatan begitu?bukan nya mengganggu kemerduan adzan itu sendiri,kayak balapan gitu antar mushola?bukan kah jadi terlihat jelas perpecahan dalam beribadah?menurut pribadi gw beribadah ga harus rutin berdoa terus,tapi bagaimana kita menjalanin hidup,bagaimana kita terhadap diri sendiri dan makhluk hidup lain nya.kalau bukan begitu kenapa Tuhan memberi kita Kehidupan bersama2 makhluk hidup lain nya??gw rasa Tuhan pun kalau hanya mau mendengarkan lantunan Doa Pujian aza mending ciptain record player hehehehe,lebih mudah daripada ciptain Manusia,banyak sekali yg beranggapan bahwa semakin banyak Berdoa kepada Tuhan semakin baik,semakin yakin masuk surga.entah apa yg di janjikan para pemimpin umat nya.tanpa di sadarin membangun pribadi yg tertutup akibat sikap fanatik terhadap Agama yg di anut,yg pada akhir nya lahirnya sikap intoleran antar Umat Beragama...

    ReplyDelete
  34. saya orang islam juga merasa terganggu dengan suara kaset yang distel dengan suara raksasa satu jam sebelum azan.

    ReplyDelete
  35. Mungkin kalo ada yg jual TOA yg suaranya sampai ke langit bakal dibeli juga... padahal TOA itu produk orang eropa (yg katanya org "kafir") koq gak diharamkan dipakai di mesjid dan tempatnya di atas lagi... inkonsisten...!

    ReplyDelete
  36. memang sangat mengganggu jika toa mesjid digunakan tidak sesuai aturan. apalagi jika orang yang menggunakannya bersuara jelek bikin sakit telinga, dan juga terkesan asal asalan.

    ReplyDelete
  37. saya tidak mempersalahkan apabila penggunaan toa untuk shalat 5 waktu setiap hari nya, tp yg sya sangat kecewa adalah penggunaan toa kadang dari pagi hari hingga malam dan yg di pasang hanya dari kaset rekaman. bhkan saat saya menulis pesan ini tepat nya pukul setengah 12 malam ini masih ada saja org yg berkoar" padahal mata sudah saangat mengantuk tp kepala cenat cenut karena suara ny sangat memekakan telingga

    ReplyDelete
  38. banyak dari agan2 yang mempermasalahkan tentang penggunaan TOA. Sebagai Muslim saya memohon maaf atas ketidak nyamanan. Tapi perlu diketahui, kaidah suara azan mesti disampaikan dengan lantang. berikut dalilnya:
    Imam Abu Dawud dalam Sunannya menuliskan: "Bab Meninggikan (mengeraskan) suara saat adzan". Lalu beliau menyebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:

    الْمُؤَذِّنُ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ وَيَشْهَدُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ وَشَاهِدُ الصَّلاَةِ يُكْتَبُ لَهُ خَمْسٌ وَعِشْرُونَ صَلاَةً وَيُكَفَّرُ عَنْهُ مَا بَيْنَهُمَا

    "Muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) diberi ampunan untuknya sejauh suaranya dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan yang kering. Satu orang yang mendatangi shalat maka dicatat untuknya dua puluh lima shalat dan diberi ampunan untuknya antara dua shalat." (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami', no. 7744 dan Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud, no. 515)

    Di antara ulama yang membolehkannya adalah Syaikh Muqbil, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Yahya bin ‘Ali Al Hajury [1] dan lain-lainnya, demikian pula fatwa Lajnah Daimah di Arab Saudi.

    Jadi bisa dibilang suara azan memang harus dikeraskan, jika mau mengikuti masa lalu yakni tanpa menggunakan pengeras suara maka suara azan tidak akan kedengaran karena akan terhalangi dengan bisingnya suara mobil, radio, tv dsb.

    Kalau untuk pengajian, saya berharap saudara2 sekalian bisa membicarakan dengan pengurus masjid. Islam mengajarkan untuk mengedepankan musyawarah dan menjauhi perdebatan. Muslim yang taat akan menerima dengan baik masukan masukan yang memang bertujuan untuk kerukunan dalam bermasyarakat.

    wallahualam, saya hanya manusia biasa yang masih banyak kekurangan.

    ReplyDelete
  39. Pencerahan yg luar biasa "pencari ilmu" saya sangat setuju dgn anda, Islam mengajarkan untuk mengedepankan musyawarah dan menjauhi perdebatan.

    ReplyDelete
  40. Gw islam KTP (jujur) dan ga ada masalah personal sama Islam its ok klo azan sih. Tapi masalahnya klo digunakan selain azan misal setel musik ngaji sebelum azan subuh lebih dari 15 menit. WTF masa gw disuruh bangun 1 jam sebelum subuh? lah mau ngapain? mau zikir juga ga khusuk karena denger masjid berisik. Mau negor orangnya nanti gw dikatain kafir lah murtad lah segala macam (malas cari urusan).

    Makanya gw jadi males ibadah karena sebal sama masjid yang mengganggu waktu istirahat gw. Oh ya sebagai info dalam radius sekitar 2 km ada sekitar 15 masjid/mushalla di perumahan gw. Ya salaam tabah sampai akhir khususnya pas ramadhan ane ga bisa istirahat. Mana kamar gw ada di lantai 2 yang mana suara dari mana-mana kedengeran.

    Klo ada duit rencana beli rumah yang agak jauhan dari pemukiman penduduk. Ane suka hidup tenang dan ga banyak suara. Sekali lagi ga ada masalah personal sama Islam hanya banyak masjid (ga semua) yang menganggu waktu istirahat ane.

    ReplyDelete
  41. Sekarang udah 2016 saya di Surabaya masih merasakan masjid berisik ini, saya sangat setuju kalo hanya adzan dan sekali2 pengumuman lah yang boleh make speaker, Kalo pengajian ibu2, shalawatan dan ngaji pribadi cukuplah diri sendiri dan Allah yang tau. Ramadhan ini tempat saya jadi bulan2an karna diapit 3 Masjid. Allahualam bi Shawaab

    ReplyDelete
  42. TOA,mesjid sangat mengganggu..mksudnya orangnya,..(ntah itu marbotnya,..atw yg lainnya)
    ga usah pake TOA lah,..

    ReplyDelete
  43. Kekerasan suara melalui toa adalah ajaran kekerasan agama arab karena agama islam berasala dari arab bangsa biadapa pancung tkw indonesia sehingga dalam sehari-hari melakukan kekerasan suara menteror telinga orang indonesia menggunakan toa produk bangsa asing arab biadap.

    ReplyDelete

hit counters

hit counter